Dienul Islam sangat menekankan kepada umat muslim untuk memperhatikan hal yang penting ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

 “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya”(Muttaffaq ‘alihi)

 Dan termaksud manhaj shahabat dan para salafus shalih adalah berakhlaq mulia dan memuliakan tamu, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat AlHasr : 9 :

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan orang-orang (Anshor) yang telah menempati kota madinah dan beriman sebelum kedatangan mereka (muhajirin), mereka menciantai orang yang berhijrah ketempat mereka dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (muhajirin) dan mereka mengutamakan (muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga sangat butuh.”.

 Disebutkan bahwasanya ayat ini diturunkan karena shahabat Anshor yang yang lebih mendahulukan keperluan makanannya kepada tamunya dari kalangan muhajirin.

 Jika kita mentadaburi ayat-ayat AlQur’an maka kita akan dapati bahwasannya memuliakan atau menjamu tamu, bukan saja Akhlaq dari nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya Radhiyallahu anhum, akan tetapi juga akhlaq para nabi –nabi sebelumnya, sebagaimana yang Allah kisahkan tentang nabi Ibrahim ‘Alaihi ssholaatu wa ssalam :

 Allah berfirman dalam surat Adzaariyaat : 24-27 :

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ * إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ * فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ * فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ *

 “Sudahkah sampai kepadamu cerita tamu ibrahim yang dimuliakan (malaikat) ketika mereka masuk kepadanya, lalu mengucapakan salam, ibrahim menjawab “Saalam”

(Mereka itu) orang-orang yang belum dikenalnya * maka diam-diam dia (ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawahnya daging anak sapi yang gemuk (yang dibakar) * lalu didekatkanlah (hidangan) itu kepada mereka, ibrahim berkata “mengapa kamu tidak memakannya!”.

 Tadabbur ayat :

Adab menerima tamu

1- Menghormati tamu

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

“Sudahkah sampai kepadamu cerita tamu ibrahim yang dimuliakan (malaikat)”

Dan Allah mensifatkan bahwa tamu-tamu itu “الْمُكْرَمِينَ “ dihormati.

Karena syariat Allah memerintahkan agar tamu memang harus dihormati dan nabi Ibrahim hormat kepada tamunya itu.

Dan begitupula cucunya nabi ibrahim yaitu nabi Yusuf alahi wa sallam yang berkata kepada saudaura-saudarnya yang datang kepadanya, dalam QS yusuf : 59 :

{ أَلا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنزِلِينَ }

“ tidaklah kamu melihat bahwa aku mrnyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang baik“.

 2. Menjawab salam

إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

ketika mereka masuk kepadanya, lalu mengucapakan salam, ibrahim menjawab “Saalam”

(Mereka itu) orang-orang yang belum dikenalnya”.

Nabi ibrahim menjawab salam tamunya itu meskipun kedua tamunya adalah orang yang belum dikenalnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat anNisaa : 86 :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu (salam) maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu) dengan yang sepadan dengannya”.

 3.Bersegera didalam menjamu tamu

 Didalam ayat lain surat :Hud : 69 Allah berfirman :

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

“Dan para utusan kami telah datang kepada nabi ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan “selamat” nabi ibrahim menjawab, “selamat” maka tidak lama kemudian nabi ibrahim menyuguhkan anak sapi yang dipanggang.”

Kata{ فما لبث }menunjukan bersegeranya didalam menerima dan menghormati tamu.

 4. Hendaknya memberikan makanan yang benar-benar enak dan matang sehingga tamu mau untuk menyantapnya

أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

kemudian dibawahnya daging anak sapi yang gemuk.”(AdDzariyaat : 26)

dan didalam surat Hud: 69

بِعِجْلٍ حَنِيذٍ anak sapi yang dipanggang.”

Nabi Ibrahim menyuguhkan kepada tamunya anak sapi yang gemuk, karena sapi yang gemuk lebih banyak dagingnya dan enak dari pada sapi yang kurus, dan daging yang dipanggang adalah daging yang telah matang dan akan terasa lebih nikmat.

 5.Hendaknya suguhan hidangan didekatkan kepada tamu, sehingga dia tidak segan dan sulit untuk mengambilnya :

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ    “lalu didekatkanlah (hidangan) itu kepada mereka” karena apa bila hidangan itu diletakan jauh dari tamu, maka tamu itu akan segan untuk memakannya.

 6. Hendaknya menawarkan makan kepada tamu.

قَالَ أَلاَ تَأْكُلُونَ

“(Ibrahim) berkata, “mengapa kamu tidak memakannya/ kenapa tidak dimakan!”.

 Ibnu Qoyyim berkata didalam kitabnya “Jalaulafham. Juz 1/273 (maktabah syamilah) :

فَقَدْ جَمَعَتْ هَذِهِ الْآيَةُ آدَابَ الضِّيَافَةِ الَّتِي هِيَ أَشْرَفُ الْآدَابِ ، وَمَا عَدَاهَا مِنْالتَّكَلُّفَاتِ الَّتِي هِيَ تَخَلُّفٌ وَتَكَلُّفٌ إنَّمَا هِيَ مِنْ أَوْضَاعِ النَّاسِ وَعَوَائِدِهِمْ ، وَكَفَى بِهَذِهِ الْآدَابِ شَرَفًا وَفَخْرًا ، فَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا ، وَعَلَى إبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِهِمَا ، وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ .

“Sungguh ayat-ayat ini menghimpun adab-adab menjamu tamu yang merupakan adab-adab yang paling mulia, adapun selain dari adab-adab(menjamu tamu) ini dari takalluf(pembebanan2) adalah kebodohan dan penyusahan diri yang merupakan buat-buatan manusia. Maka cukuplah dengan adab-adab ini sebagai kemuliaan dan kebanggaan.

Semoga Allah mencurahkan shalawat kepada nabi kita dan nabi ibrahim dan kepada kedua keluarganya dan seluruh para nabi.”

 Abu Rafah AlBatawi. 16 agustus 2013.