Syubhat :Kenapa Hadits Shohih bertentangan dengan alQuran???

Muncul syubhat yang mengatakan bahwa,  hadits shahih kok bertentangan dengan AlQur’an!!!??? Contohnya sabda nabi “{أنّ الميت يعذب ببكاء أهله عليه} “ Bahwasanya mayit diazab karena Ratapan keluarganya kepadanya”( Mutaffaq ‘alihi)

Kenapa seseorang kok diazab karena tangisan orang lain, bukankah Allah Subhaanahu berfirman, “{ولا تزر وازرة وزر أخرى} “Seseorang yang berdosa tidak akan memikul beban dosa orang lain” (AnNajm:38)

Bantahan .

Bukanlah suatu yang asing, adanya penampakan Ta’arudh (pertentangan) antara dua dalil yang sama-sama kuat, misalnya Ta’aarudh ayat dangan ayat, atau ayat dengan hadits atau hadits dangan hadits yang lainnya.

Dan para ulama telah memberikan rumusan jika terjadi hal seperti ini didalam kitab-kitab Ushul fiqh atau Ushul tafsir..

Diantara langkah-langkah mereka adalah sebagai berikut :

1- mengetahui Asbaabunnuzul atau wurud(sebab turunnya ayat atau sebab datangnya hadits) tesebut, agar diketahui zaman/ waktu turunnya sehingga yang dalil yang terakhir dapat menashakh(menghapus) dalil yang terdahulu.

2- Menggabungkan dua dalil yang bertentangan itu, jika seandainya bisa digabungkan.

3- mengadakan tarjih (memilih atau mengamalkan salah satu dalil yang dianggap lebih kuat)

Dan ibnu Hazm menolak adanya Tarjih (memilih salah satu yang lebih kuat) diantara dua dalil yang kuat, karena bukanlah hal yang masuk akal, jika terjadi pertentanagan antara dua dalil yang shahih dari Allah dan rasulnya. Allah berfirman

“  { لو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا }

“Jika seandainya(AlQur’an) bukan dari sisi Allah, niscaya mereka menemukan banyak hal yang bertentangan didalamnya”.(AnNisaa:82)

Dan yang Haq, bahwasanya syariat (Allah) ini bersih dari pertentangan dan perselisihan.

Oleh karena itu ibnu hazm memandang adanya Ta’arudh(pertentangan) bukanlah secara zatnya , dan apa yang dianggap pertentangan, maka sesungguhnya itu bukanlah pertentangan.(Munazhoroh fi Ushulit Tasyri’:2/99)

Bahwasanya tidak ada Ta’aarudh (pertentangan) antara Hadits “Bahwasanya mayit diazab karena tangisan keluarganya kepadanya” dengan firman Allah “Seseorang yang berdosa tidak akan memikul beban dosa orang lain” (AnNajm:38)

Dengan alasan-alasan sebagai berikut :

  1. Firman Allah QS AnNajm ayat 38 itu bersifat umum sedangkan Hadits khusus.
  2. Bahwasannya Ayat menjelaskan secara Glaobal atau hukum asal, bahwa  seseorang tidak akan memikul dosa orang lain
  3. sedangkan Hadits menjelaskan secara khusus atau pengecualian, bahwa seseorang akan memikul dosa orang lain jika dosa orang lain itu disebabkan karenanya.
  4. telah banyak hadits-hadits yang  lain dan ayat alQur’an yang menjadikan pengkhususan dari surat AnNajm ayat 38 ini.
  5. diantaranya Hadits yang menjadi pengkhusus QS.AnNajm:38

“Barang siapa yang mensunnahkan(mencontohkan) sunnah yang buruk maka dia akan mendapatkan dosa karenanya dan dosa orang yang mengamalkanya (mengikuti sunnah buruknya) (HR.Muslim)

  1. diantara ayat yang menjadi mengkhusus QS.AnNajm ayat:38,

Firman Allah : “(Ucapan mereka ) menyebabkan mereka pada hari kiamat, memikul dosa-dosa mereka sendiri secara sempurna dan dosa-dosa orang yang mereka sesatkan..(QS.QnNahl:25)

  1. Sang mayit mendapat siksa karena dosa orang yang meratapinya, dikarenakan meratapi mayit adalah perbuatan dosa, dan orang tesebut meratap karena sebab sang mayit.
  2. Sebagaimana dikatakan oleh  Syekh Syanqhithi Rahimahullahu:

هو أن العلماء حملوه على أحد أمرين:الأول: أن يكون الميت أوصى بالنوح عليه كما قال طرفة بن العبد في معلقته: لأنه إذا كان أوصى بأن يناح عليه فتعذيبه بسبب إيصائه بالمنكر وذلك من فعله, لا فعل غيره.

الثاني: أن يهمل نهيَهم عن النوح عليه قبل موته مع أنه يعلمُ أنهم سينوحون عليه

Bahwasannya para ulama menafsirkan hadits ini dengan dua penafsiran :

Pertama : bahwasanya sang mayit (seketika masih hidup) mewashiatkan (apabila telah wafat) agar dia diratapi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thorfah bin al’abd dalam Muallaqotnya. Maka diazabnya mayit dikarenakan washiatnya sang Mayit dengan sesuatu kemungkaran, maka azab itu, karena perbuatannya(Mayit) bukan karena perbuatan orang lain.

Kedua : karena sang mayit, sebelum kematiannya tidak melarang mereka(keluarganya) untuk meratapinya, padahal dia mengetahui mereka pasti akan meretapinya..(Adwaaul Bayan :3/150)

Berkata imam Nawawi Rahimahullah :

تأوله الجمهور على أن من أوصى بأن يبكى عليه ويناح بعد موته وكان من عادة العرب الوصية به

Jumhur Ulama menafsirkan hadits ini berlaku kepada orang yang mewashiatkan agar dia ditangisi dan diratapi setelah kematiannya. Dan washiat seperti ini merupakan kebiasaan orang Arab”(Diybaj ‘ala Muslim:3/15)

Berkata syekh utsaimin :

وَأنَّ المَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أهْلِهِ ، وَهِيَ مُتَأَوَّلَةٌ ومَحْمُولَةٌ عَلَى مَنْ أوْصَى بِهِ

“Bahwasannya mayit diazab karena ratapan keluarganya, dan hal itu ditafsirkan dan kemungkinan kepada orang (Mayit) yang mewasiatkannya(Untuk diratapi)”.

(Syarah Riyadhusshaalihin)

Kesimpulan

Akhir nya jelas bagi kita, bahwasanya akan adanya Ta’arudh antara dalil-dalil syar’I yang qoth’I (Pasti/kuat). dan para ulama sepakat bahwa sebab Ta’arudh (pertentangan) itu bukanlah dari nash (dalil-dalil) itu sendiri, tetapi munculnya pertentangan itu karena keterbatasan dan kelemahan seseorang atau mujtahid didalam memandang dan memahami nash(dalil-dalil) tersebut.

Dan para ulama memandang , bahwasannya hadits tentang diazabnya mayit yang diratapi oleh keluargannya adalah sebagai pengkhusus pada ayat 38 surat AnNajm, dan bukan sebagai hal yang berlawanan atau bertentangan.

diantaranya yang mengatakan ini adalah Imam AsSaukani dan Syekh bin Baz.(Arsip Multaqi ahlitTafsir/9/92).

Abu DzurRa’fah AlBatawi.