Bingung jadinya katanya tidak boleh menyentuh wanita selain mahram, tapi tiba-tiba ada seorang Doktor lulusan Timur Tengah mengatakan bahwa bersentuhan tangan kepada selain mahram antara laki-laki dengan perempuan tanpa disertai syahwat dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah, maka hukumnya tidak apa-apa!! Berarti boleh dong!!!???

Stop…stop…stop…ntar dulu!!!, Doktor juga manusia, bisa salah, bisa lupa jangan samakan dia dengan malaikat…atau dengan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma’sum.!!

Sebelum kita taklid(mengikuti) atau menyanggah suatu pendapat, maka sikap yang adil adalah melihat isdidlal masing-masing pendapat, sehingga nanti baru kita bisa menyimpulkan pendapat mana yang paling benar atau mendekati kebenaran.!

Sebelumnya kita harus mengetahui, bahwa jumhur ulama termaksud imam-imam madzhab yang empat telah sepakat akan haramnya menyentuh selain mahram dengan sengaja, dengan syahwat atau tanpa syahwat.

Beberapa dalil yang digunakan Jumhur untuk keharamannya adalah diantaranya :

1- Hadits Ma’qil bin Yasar radhyiallahu ‘anhu ,Bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HSR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226)

2-     Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam riwayat Bukhary-Muslim, beliau berkata :

وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ قَطٌّ فِي الْمُبَايَعَةِ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ

Demi Allah tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita dalam berbai’at, beliau hanya membai’at mereka dengan ucapan“.

3- Hadits dari Amaimah binti Ruqoiqoh radhiyallahu ‘anha dalam riwayat Bukhary-Muslim, beliau berkata :

قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلا تُصَافِحُنَا؟ قَالَ: إِنِّي لا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ كَقَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ

Kami (para wanita) berkata : “wahai rasulullah, mengapa enggau tidak berjabat tangan dengan kami? Maka beliau menjawab, “sesungguhnya aku tidak (mau) berjabat tangan dengan permpuan-perempuan, akan tetapi ucapanku untuk seorang wanita, seperti ucapanku kepada seratus wanita.

Berkata Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 12/243 : “Dalam perkataan beliau “aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita” adalah dalil tentang tidak bolehnya seorang lelaki bersentuhan dengan perempuan yang tidak halal baginya (bukan mahramnya-pent.) dan menyentuh tangannya dan berjabat tangan dengannya”.

4- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Bukhary-Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menegaskan :

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبَهُ مِنَ الزَّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زَنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذَنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zananya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan atau didustakan”.

Ke empat hadits-hadits di atas merupakan dalil yang digunakan Jumhur untuk mengharamkan bersentuhan antara lain jenis yang bukan mahram.

Berikut adalah Subhat-subhat sang Doktor untuk membolehkannya :

SYUBHAT PERTAMA

Hadits pertama dari Ma’qil bin Yasar, yang artinya “Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”.

Beliau mengatakan yang dimaksud menyentuh adalah berzina’(berhubungan intim) berdasarkan firman Allah : “Maryam berkata, Wahai Rabb bagaimana mungkin aku bisa mempunyai anak, sedangkan tidak ada seorang laki-lakipun yang menyentuhku…”.(Ali-Imran : 47/ Maryam :20)

Bantahan :

Memajazkan “menyentuh” dengan makna “berhubungan intim”berdasarkan hadits Ma’qil bin yasar dengan perkataan Maryam tidaklah benar. Berdasarkan kaidah fiqih..Karena memajaskan sesuatu, tidaklah boleh kecuali jika terdapat padanya qorinah (penguat) atau sesuatu yang menjelaskan dan mewajibkan sesuatu menjadi majas.

Contoh : “ada singa di atas mimbar”  maka singa dimaknai dengan makna lain yaitu “manusia” karena ada qorinah(penggandeng/penguat) yaitu “diatas mimbar”

Sedangkan jika dikatakan “ada singa di dalam hutan” maka singa tidak bisa dimaknai dengan makna yang lain, kecuali jika terdapat padanya qorinah(penggandeng/penguat)

Perkataan Maryam “bagaimana mungkin aku bisa mempunyai anak, sedangkan tidak ada seorang laki-lakipun yang menyentuhku”. Menyentuh disini dimaknai dengan “berhubungan intim” karena terdapat padanya qorinah, yaitu “bagaimana mungkin aku bisa mempunyai anak“. Qorinah ini mengharuskan untuk menjadikan makna “menyentuh” menjadi “berhubungan intim”, sedangkan lafadz hadits dari Ma’qil bin Yasar yang berbunyi. “Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. Maka padanya terdapat makna jelas dan tidak terdapat padanya qorinah tidak memerlukan untuk menjadikannya dengan makna lain.

Oleh karena itu Imam AsSyafi’I Rahimahullah, beliau memandang makna dalam ayat wudhu (QS:AlMaidah:6) dengan “menyentuh” bukan dengan makna “berhubungan intim” oleh karena itu ia memandang batalnya mudhu seseorang dikarenakan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan meskipun salah satunya mayyit, baik sengaja maupun tidak sengaja.  sedangkan malik, abu hanifah dan Ahmad memandang tidak batal, karena mereka memandang makna menyentuh dalam ayat ini(AlMaidah:6) adalah “berhubungan intim/jima’”. Berdasarkan qorinah(penggandeng/ penjelas/ penguat) yang terdapat dalam beberapa hadits diantaranya hadits dari ‘aisyah Radhiyallah ‘anha beliau berkata:

لَيُصَلِّي وَإِنِّي لَمُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ اعْتِرَاضَ الْجَنَازَةِ حَتَّى إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ مَسَّنِي بِرِجْلِهِ

"Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, saya terbaring di depannya seperti berbaringnya jenazah, hingga apabila beliau hendak melakukan shalat witir, belau menyentuhku dengan kakinya.(Sunan Nasaai:1/288, ahmad :53/192)

Dari beliau juga, Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ ثُمَّ يُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ

Bahwasannya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium sebagian istri-istrinya, kemudian ia shalat dan tanpa berwudhu”.(sunan Nasaai:1/293)

Dua hadits inilah yang dijadikan qorinah pada makna”menyentuh” dalam (Qs-AlMaidah:6)menjadi makna “jima” oleh para imam madzhab (selain) ayafi’I (Fiqh alIslami wa Adillatuh/Wahbah AzZuhaili:1/276).
Para imam madzhab tidaklah menjadikan perkataan maryam sebagai penjelas atau qorinah ayat ini(AlMaidah), akan tetapi mereka menjadikan hadist Aisyahlah sebagai qorinahnya.

Kesimpulannya : jelaslah salah seseorang yang memajazkan hadits yang diriwayatkan Ma’qil bin Yasar makna “bersentuhan”dengan makna “berhubungan intim” karena jelas tidak terdapat padanya qorina atau syawahid(penguat).

SYUBHAT KEDUA

1- Beliau mengatakan, bahwa Hadits Aisyah dan Amaimah binti Ruqoiqoh radhiyallahu ‘anhuma tidak menunjukan pengharaman sebagaimana beliau meninggalkan untuk makan daging Dhab(kadal yang mirip biawak), tidak menunjukan pengharaman akan daging Dhab tersebut”.

Bantahan :

Jelas menolaknya rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berbaiat dengan para wanita menunjukkan pengharaman karena terdapat hadits-hadist lain yang menguatkan akan hal tersebut, sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Sedangkan menolaknya  rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memakan dabh(kadal yang mirip biawak) tidak menunjukkan pengharaman karena jelas dalam lanjutan hadits dari Khalid bin al-Walid :

أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي فِي بَيْتِ مَيْمُونَةَ أَخْبِرُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا يُرِيدُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ فَقِيلَ هُوَ ضَبٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَرَفَعَ يَدَهُ فَقُلْتُ أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ قَالَ خَالِدٌ فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ

“Ia masuk bersama Rasulullah n ke rumah Maimunah, lalu disajikan daging dhab panggang. Nabi n menjulurkan tangannya (untuk mengambilnya). Berkatalah sebagian wanita (yang ada di dalam rumah), ‘Beritahu Rasulullah n apa yang akan dimakannya.’ Mereka lantas berkata, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah daging dhab.’ Nabi n pun menarik kembali tangannya. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah binatang ini haram?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, tetapi binatang ini tidak ada di tanah kaumku sehingga aku merasa jijik padanya’.” Khalid berkata, “Aku pun mencuilnya dan memakannya sementara Rasulullah n memerhatikanku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim serta lainnya)

Karena dalam hadits ini jelas terdapat penjelas bahwa rasulullah saw tidak mengharamkannya.

Sedangkan hadits menolaknya rasulullah saw berbaiat dengan tangan yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, jelas tidak ada penjelas akan kebolehannya, bahkan yang adalah penjelas akan keaharamanya berdasarkan hadits-hadits yang telah kami sebutkan dan ayat-ayat alQur’an, diantaranya ayat berikut :

Firman Allah Ta’ala : [ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ ]:

“katakan kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya..” (AnNur:30)

Berkata asSubki seorang ulama dari madzhab syafi’I :الْمَسَّ أَبْلَغُ مِنْ النَّظَرِ

“ bahwasannya menyentuh itu lebih (membangkitkan syahwat) dari memandang “.(MughnilMuhtaj ila ma’rifati alfazhilminhaaj/kitab nikah:12/17)

SUBHAT KE TIGA

Beliau (Doktor) mengatakan tidak mengapa menyentuh jika tanpa syahwat!!!???

Bantahan :

Dalam kaidah ushul fiqh dikatakan : “سدُّ الذرائع إلى المحرم حتم كفتحها إلى المنحتم “ menutup celah-celah kepada suatu keharaman adalah wajib  sebagimana membukanya menjadi wajib(untuk mencegah keharaman)”

Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan dan begitupulah rasulullah saw dalam beberapa haditsnya, maka secara dalil aqli jelas, bahwasanya menyentuh lebih membangkitkan syahwat dari pada melihat. Maka jikalau memandang selain mahram dilarang, maka selayaknya menyentuhpun dilarang!!.

Bahayanya fatwa Doktor ini jika seandainya ada seseorang yang menggandeng seorang wanita yang bukan mahramnya, kemudian dilarang oleh seseorang, niscaya dia akan menjawab.”Bukankah kata Doktor…. menyentuh wanita bukan mahram tidak haram jika tidak disertai syahwat dan tidak menimbulkan fitnah!!??, aku ngak punya maksud apa-apa kok sama dia, karena aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri!!”. Wal iyyadzu Billah…

SYUBHAT KE EMPAT

Beliau berdalil dengan hadits shahih riwayat Bukhori dan Muslim tentang kisah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masuk kerumah ummu sulaim dan ummu haram dan pernah suatu hari rasulullah saw duduk di pangkuan ummu haram yang mencari-cari sesuatu (seperti mencari kutu) dikepala. Bunyi haditsnya seperti ini :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ? كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أُمّ حَرَام بِنْت مِلْحَان فَتُطْعِمُه،ُ وَكَانَتْ أُمّ حَرَام تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِت،ِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ ? يَوْمًا فَأَطْعَمَتْه،ُ ثُمَّ جَلَسَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ ? ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ أَوْ مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ -يَشُكُّ أَيَّهُمَا- قَالَ:َ قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَدَعَا لَهَا، ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ، ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ ..

dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bahwa dia mendengarnya berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang kepada Ummu Haram binti Milhan lalu dia memberi makan Beliau. Dimana saat itu Ummu Haram berada pada tangung jawab (istri) ‘Ubadah bin ash-Shomit lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya kemudian dia memberi makan Baliau dan Ummu Haram kemudian menyisir rambut kepala Beliau hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur. Kemudian Beliau terbangun sambil tertawa. Ummu Haram berkata; Aku tanyakan: “Apa yang membuat Tuan tertawa wahai Rasulullah”. Beliau menjawab: “Ada orang-orang dari ummatku yang diperlihatkan kepadaku sebagai pasukan perang di jalan Allah…(Muttaffaq ‘alaihi)

Bantahan :

Kisah tentang Ummu haram ini telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab shahihnya sebanyak 13 kali didalam beberapa bab, terkadang dengan ringkas terkadang panjang, dan nabi terbiasa makan, minum dan tidur dirumahnya dsb.

Tentu penulis(Imam Bukhori) lebih tahu dari kita tentang hadits-hadits ini, akan tetapi beliau tidak pernah berburuk sangka dan menyangka bahwa hadits ini akan melahirkan munculnya 2 golongan pada masa ini :

Golongan pertama : kelompok ingkar hadits(Sunnah), dan menolak keshahihan dua kitab shahih setelah alQur’an, yaitu Bukhori dan Muslim, yang keduanya telah disepakati keshahihannya.

Golongan kedua : kelompok ahli syahwat : yang memanfaatkan hadits ini untuk menjadikan dalil bolehnya bersentuh dengan perempuan, berkhalwat dsb.

Sebelumnya kita kenal dulu siapa dua wanita itu (Ummu sulaim dan ummu Haram)?

Ummu sulaim dan ummu haram adalah dua bersaudara, sedang  ummu sulaim adalah ibunya anas bin malik, orang yang selalu melayani Rassulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata anas ra tentang akhlaqnya yang mulia:

خدمت النَّبِيّ عشر سنين، فما قَالَ لي لشيء فعلته لم فعلته، ولا لشيء تركته لما تركته.

“Aku telah melayani nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah mengatakan kepadaku tentang apa yang aku kerjakan, “kenapa engkau kerjakan itu” dam tidaklah aku meninggalakn sesuatu (pekerjaan), “kenapa kamu tidak mengerjakannya”(Shahih Bukhori:18/464 )

Kedekatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seringnya beliau berinteraksi dengan ke-tiga orang ini(ummu sulaim, ummu haram dan anas bin malik) bukan lah sesuatu yang asing bagi para sahabat dan semua itu telah dijelaskan dalam banyak hadits diantaranya:

Hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدْخُلُ بَيْتًا بِالْمَدِينَةِ غَيْرَ بَيْتِ أُمِّ سُلَيْمٍ إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِ

bahwasannya nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memasuki suatu rumah dimadinah, kecuali rumah ummu sulaim dan istri-istrinya”.(Shahih Bukhori.9/439)

Dari Tsabit dari anas bin malik,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ فَأَتَوْهُ بِسَمْنٍ وَتَمْرٍ فَقَالَ: رُدُّوا هَذَا فِي وِعَائِهِ وَهَذَا فِي سِقَائِهِ فَإِنِّي صَائِمٌ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ تَطَوُّعًا فَقَامَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ وَأُمُّ حَرَامٍ خَلْفَنَا

“Bahwasanya nabi saw masuk kerumah ummu haram maka mereka membawakan kepadanya minyak saman dan kurma, maka beliau bersabda, “letakan ini pada bejananya dan ini pada wadahnya, sesungguhnya aku sedang berpuasa”, kemudian beliau shalat sunnah dua rakaat bersama kami, Ummu Sualaim dan Ummu Haram berdiri dibelakang kami.”.(Sunan Abu Daud.2/228)

مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُ أُمَّ سُلَيْمٍ فَتُدْرِكُهُ الصَّلَاةُ أَحْيَانًا فَيُصَلِّي عَلَى بِسَاطٍ لَنَا وَهُوَ حَصِيرٌ نَنْضَحُهُ بِالْمَاءِ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengunjungi Ummu Sulaim dan terkadang sampai (waktu) shalat tiba, maka beliau mengerjakan shalat di atas hamparan kami, yaitu tikar yang kami perciki dengan air”.(Sunan Abu Daud.2/298)

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرَّ بِجَنَبَاتِ أُمِّ سُلَيْمٍ دَخَلَ عَلَيْهَا فَسَلَّمَ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرُوسًا بِزَيْنَبَ فَقَالَتْ لِي أُمُّ سُلَيْمٍ لَوْ أَهْدَيْنَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً فَقُلْتُ لَهَا افْعَلِي

“Bahwasanya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau melintasi daerah ummu sulaim beliau mampir kerumahnya dan mengucapkan salam kepadanya, kemudia dia (anas)berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu baru menikah dengan zaenab, maka berkata kepadaku ummu sulaim, “bagaimana jika seandainya kita menghadiakan kepada raulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hadiah”?, maka kau berkata kepdanya(ummu sulaim), lakukanlah…”. (Shohih Bukhori:16/146)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْزُو بِأُمِّ سُلَيْمٍ وَنِسْوَةٍ مِنْ الْأَنْصَارِ مَعَهُ إِذَا غَزَا فَيَسْقِينَ الْمَاءَ وَيُدَاوِينَ الْجَرْحَى

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berperang bersama-sama dengan Ummu Sulaim dan beberapa wanita Anshar, ketika perang berkecamuk, mereka memberi minum dan mengobati tentara yang terluka.”(Shohih Muslim:9/309)

Dan masih banyak hadits-hadits yang begitu banyak yang menunjukkan seringnya muamalah nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu sulaim dan Ummu Haram dengan bentuk muamalah sesama mahram.

Adapun perkataan Ibnu Hajar yang sepakat dengan perkataan Dimyati bahwasannya hubungan nabi kepada ummu sulaim dan ummu haram adalah bentuk kekhususannya sebagimana beliau menikah lebih dari 4 istri dan bolehnya beliau menikah dengan tanpa mahar, maka hal tersebut tidaklah benar dengan alasan sebagi berikut :

A -Hal tersebut membutuhkan dalil baik perkataan dan perbuatan yang menunjukan kekhususannya untuk berkhalwat dan Nadzor(melihat) dan menyentuh. Karena pada hukum asalnya segala ucapan dan perbuatan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk di ikuti

B- Seandainya ini kekushusan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengapa ia tidak melakukannya kepada wanita-wanita ajnabiyah(bukan mahram) yang lain, terutama ketika berbaiat, padahal berbaiat dengan berjabat tangan lebih ringan dari pada tidur dipangkuan dan berkhalwat dengan wanita lain.

C-Tidak pernah diketahui akan kekhususan ini dikalangan salaf ,berkata  Abdullah bin Wahb:

أُمّ حَرَام إِحْدَى خَالَات النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الرَّضَاعَة فَلِذَلِكَ كَانَ يُقِيل عِنْدهَا وَيَنَام فِي حِجْرِهَا وَتَفْلِي رَأْسه

 “Ummu Haram adalah salah satu dari bibi –bibi nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sesusuan maka oleh karena itu dia pernah tidur (siang) ditempat tidurnya dan dipangkuannya dan ummu haram mencari-cari sesuatu dikepalanya.

Kesimpulan :

Hubungan rasulullah saw dengan Ummu haram dan Ummu sulam adlah hub sesama mahram, dengan beberapa alasan.

1. Ummu Haram dan Ummu sulaim adalh dua bersaudara, dan uumu Sulaim adalah ibu anas bin malik

2. Muamalah nabi dengan Ummu Haram dan Ummu sulaim adalah bagaikan muamalah sesama mahram dan beliau tidak melakukan hal itu kecuali kepada dua wanita ini dan istri-istrinya.

3. Menolaknya nabi berjabat tangan dengan para wanita yang lain ketika berbaiat Dan banyaknya yang diriwayatkan oleh para shahabat tentang larangan-larangan nabi untuk berkhalwat, menyentuh dan melihat kepada yang bukan mahramnya. Maka tidaklah mungkin nabi menyelisihi perkataan dan perbuatannya seperti pendeta-pendeta orang-orang yahudi.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

“mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan kebajikan) sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri..(AlBaqoroh:44)

4. Tidak adanya satupun Nash baik perkataan dan perbuatan yang menunjukan hal ini adalah kekhususan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak adanya dalil yang menunjukan mereka bukanlah mahram nabi.

5. Mengapa orang-orang kafir dan nifaq membiarkan permasalahan ini pada masa-masa kenabian, shahabat dan tabiin dan tabi’uttabi’in, dan kenapa pada masa sekarang mereka (kafir dan Munafiq) menjadikan hal ini sebaagi tuduhan kepada nabi saw atau para-Imam-imam hadits?

6. Pada masa itu menjadikan sesusuan kepada wanita lain adalah hal yang tidak asing lagi, maka terkadang perkaranya disembunyikan karena sudah menjadi kebiasaan.

7. meninggalkan dalil yang jelas (haramnya berkhalwat dan bersentuhan dengan non mahram) dan mengambil dalil yang samar adalah sifat ahlu zaigh(ahli bathil). Seperti syiah rhafidhoh, khowarij dsb.

8. berkata syekhul Islam : “jika seorang ‘alim membedakan antara apa yang diucapkan rasulullah dan apa yang tidak diucapkannya, maka seyogyanya dia memahami dan mencermati maksud apa yang diucapkannya..( Majmu’ Fatawa(Muqoddimah) 27/ 316) hadits larangan khalwat dan bersentuhan adalah langsung Hadits Qowliyyah ( langsung dari ucapan nabi), maka hal itu harus terlebih dahulu dipahami dan dicermati maksudnya, dari pada Hadits Fi’liyyah(Perbuatan nabi)

9. Jikalah kita renungi seandainya Ummu Haram Bukan mahram bagi nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan timbul dampak negative dan kerusakan adab dan akhlaq. Dan bisa dijadikan sebagai fitnah bagi orang-orang kafir dan munafiq terhadap sunnah dan islam.

10. beberapa perkataan ulama bahwasanya ummu haram adalah mahram nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Berkata Ibnu ‘AbdilBaar : “tidak diragukan bagi seorang muslim, bahwasanya ummu haram ada hubungan mahram dengan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dan dalil yang menunjukakan hal tersebut (kemudian beliau memaparkan hadits  jabir, umar, ibnu abbas, Abdullah bin amr bin ash dan Uqbah bin ‘amir tentang larangan berkhalwat dengan selain mahram)-beliau berkata, “ini adalah dalil-dalil yang shahih tentang larangan itu (khlawat) dan sesuatu yang mustahil jika seandainya nabi melakukan apa yang ia larang?.( Isykal wa Jawaabuhu jaded.39)

Berkata imam atTirmidzi :

وأُمُّ حَرَام بِنْتُ مِلْحَان هي أختُ أُمّ سُلَيْم وهي خَالةُ أنس بنِ مالك)).

“Ummu Haram bin Milhan adalah saudara perempuan Ummu sulaim, dan dia adalah bibi anas bin Malik”.(sunan ATirmidzi.6/199)

Berkata imam anNawawi :

  اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهَا كَانَتْ مَحْرَمًا لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sepakat para ulama bahwasanya dia(Ummu haram) adalah mahram(yang tidak boleh dinikahi) bagi nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam …(Syarah Nawawi ‘ala Muslim.6/393)

وَقَالَ أيضاً:((وكانت أُمّ سُلَيْم هذه هي وأختها خالتين لرسولِ الله ? مِنْ جِهةِ الرَّضَاعَ).

Berkata Syekh Muhammad Anwar syah AlKasymiri

كانت أم حرام أخت أم أنس وهي من محارمه

“Ummu Haram adalah saudara perempuan ummu annas, dan dia adalah mahramnya rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.(AlUrfu AsSyadz Syarah sunnan AtTirmidzi:3/232)

Berkata ibnu Jauzi,

سَمِعْت بَعْض الْحُفَّاظ يَقُول: كَانَتْ أُمّ سُلَيْمٍ أُخْت آمِنَة بِنْت وَهْب أُمّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الرَّضَاعَة).

“Aku mendengar dari sebagian huffadz(penghafal-penghafal hadits) berkata : Ummu sulaim adalah saudara Aminah binti Wahb, ibu Rasulullah saw.(Fath Baari.18/26)

Abu DzurRa’fah AlBatawi

Daftar Pustaka utama : Maktabah Syamilah, Isykal wa Jawabihi Jadid.