Apa hukum menggerakan jari ketika tasyahud?

Jawab : adapun menggerakan jari ketika Tasyahud maka jelas riwayat itu syadz(menyelisihi riwayat-riwayat  orang-orang yang lebih lebih tsiqoh dan kuat hafalan darinya ),

Sebagaimana dalam kaidah ilmu hadits bahwasanya hadits shohih itu tidak boleh terdapat padanya Syadz.

Imam baiquni berkata dalam nazhomnya :

أولها الصحيح وهو ما اتصل * إسناده ولم يشذ أو يعل يرويه عدل ضابط عن مثله * معتمد في ضبطه ونقله *

Yang pertama adalah (Hadits) Shohih yaitu hadits yang bersambung sanadnya dan tidak syadz atau cacat (dari celaan/tuduhan) dan yang meriwayatkannya adalah orang yang adil, dhobit dan semisalnya dan dipegang/ diakui kedhobitannya dan penukilannya.(Nazhom albaiquniayah).

Riwayat syadznya adalah pada lafadz (يحرّكها) dalam hadits wail bin hujr.

Telah datang hadits dari jalur ‘ashim bin kulaib dari bapaknya wail bin hujr Rahdiyallahu ‘anhu.

Telah meriwayatkan dari ‘ashim bin kulaib sejumlah perawi yang kuat hafalannya dan tsiqat. Dan inilah perawi-perawi yang ,meriwayatkan hadits tentang isyarat ketika shalat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengambil jalur dari aashim bin kulaib dari bapaknya dari wail bin hujr :

1-     sufyan attsauri

عَبْد الرَّزَّاقِ عَنِ الثَّورِي عَنْ عَاصِمِ بنِ كُلَيبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ وَائِلِ بنِ حُجْرٍ قَالَ : رَمَقْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ فِي الصَّلاَةِ … ثُمَّ أَشَارَ بِسَبَابَتِهِ

“dari abdurrazaq dari attsauri dari ‘aashim bin kulaib dari bapaknya dari wail bin hujr berkata, “aku melihat  rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau menganggkat kedua tangannya ketika shalat…kemudian dia berisyarat dengan jari telunjuknya.” (musnad abdurrazzaq 2/68)

2-     sufyan bin ‘uyainah

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … ثُمَّ أَشَارَ بِسَبَّابَتِهِ

“ telah  menceritakan kepada kami abdurozzaq, telah mengabarkan kepada kami sufyan dari ‘aashim bin kulaib dari bapaknya dari wail bin hujr berkata, “aku melihat  rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam…kemudian dia berisyarat dengan jari telunjuknya.” (musnad ahmad 38/319)

3-     syu’bah bin hajjaj

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …. وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ

  “ telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ja’far, telah menceritakan kepada kami syu’bah dari ‘aashim bin kulaib dari bapaknya dari wail bin hujr alhadhromi berkata, “aku shalat dibelakang  rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam……dan mengisyaratkan dengan jari telunjuknya (musnad ahmad : 38/316)

4-     bisyr bin mufadfhol

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ… وَحَلَّقَ بِشْرٌ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

telah menceritakan kepada kami musaddad, telah menceritakan kepada kami bisyr bin mufadfhol  dari ‘aashim bin kulaib dari bapaknya dari wail bin hujr berkata, “aku benar-benar melihat shalat rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam……kemudian bisr melingkarkan jari jempol dan tengahnya dan mengisyaratkan dengan telunjuk.” (sunan abu daud:2/387) .

5-     Abdullah bin idris

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ حَلَّقَ بِالْإِبْهَامِ وَالْوُسْطَى وَرَفَعَ الَّتِي تَلِيهِمَا يَدْعُو بِهَا فِي التَّشَهُّدِ

 Berkata ibnu majah, “telah menceritakan kepada kami ‘ali bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘abdullah bin idris  dari ‘aashim bin kulaib dari bapaknya dari wail bin hujr berkata, “aku benar-benar melihat shalat rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam melingkarkan jari jempol dan tengahnya dan menganggkat jari yang diantara keduanya (telunjuk) dan dia berdoa dengannya ketika tasyahud.”  (Ibnu majah : 3/161)

6-     Abdul wahid bin ziyad

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ كَيْفَ يُصَلِّي …وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ

Berkata imam ahmad, “telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdul wahid telah menceritakan kepada kami ‘aashim bin kulaib dari bapaknya wail bin hujr a;Hadhromi, dia berkataaku mendatangi rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku katakan benar-benar melihat bagaimana ia shalat …..dan kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.”(Musnad ahmad :38/311)

7-     Zuhair bin mu’awiyah

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ أَنَّ أَبَاهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ أَخْبَرَهُ قَالَ…قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي …وَأَشَارَ زُهَيْرٌ بِسَبَّابَتِهِ ..

Berkata imam ahmad, “telah menceritakan kepada kami aswad bin ‘amir, telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muawiyyah dari ‘aashim bin kulaib bahwasannya bapaknya wail bin hujr telah mengkhabarkan kepadanya, dia berkataaku benar-benar melihat shalat rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana ia shalat…..dan kemudia zuhair mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.”(Musnad ahmad :38/336)

8-     Zaidah bin Qudamah

أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ زَائِدَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ أَخْبَرَهُ  قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي … ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

“telah meriwayatkan kepada kami Suwaid bin nasr berkata telah memberitakan kepada kami Abdullah ibnu mubarak dari Zaidah dari ‘aashim bin kulaib berkata , telah bapakku menceritakan kepadaku bahwasannya wail bin hujr telah mengkhabarkan kepadanya, dia berkataaku benar-benar melihat shalat rasulullah shllallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana ia shalat…..dan kemudian dia mengangkat jari telunjuknya dan aku melihatnya menggerakkannya serta berdoa dengannya ( jari telunjuknya).”(Sunan anNasaai :3/433)

Dan telah menambah tambahan lafadz ini (يحركها ) (menggerakkannya) oleh Zaidah bin qudamah abu alshult.

Meskipun dia (Zaidah ) perawi yang tsiqqoh akan tetapi dia telah menyelisihi perawi-perawi yang lain yang lebih kuat hafalannya dan lebih tsiqoh dan terpercaya bahkan lebih n banyak jumlah riwayatnya.

Berkata ibnu khuzaimah rahimahullah,

لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنَ الأَخْبَارِ يُحَرِّكُهَا إِلاَّ فِي هَذَا الْخَبَرِ زَائِدٌ ذِكْرُهُ

“ tidak ada sedikitpun didalam riwayat-riwayat (yang lain) lafadz (يُحَرِّكُهَا  / menggerakkan) kecuali lafadz ini merupakan tambahan penyebutannya.”(Shohih ibnu khuzaimah:1/354)

Isyarat dengan tanpa menggerakan adalah pendapat tiga imam madzhab (ahmad , abu hanifah dan assyafi’i) sedangkan madzhab maliki berpendapat menggerakan.

Kesimpulan :

1-     riwayat (يُحَرِّكُهَا ) (menggerakan jari) adalah riwayat yang datang dari zaidah bin qudamah.

2-     Sedangkan perawi-perawi yang lain yang lebih tsiqoh dan kuat hafalannya darinya (ibnu qudamah) tidak satupun meriwayatkan dengan tambahan ini dari ‘ashim bin kulaib dari bapaknya wail bin hujr Rahdiyallahu ‘anhu.

3-     Sehingga lafadz (يُحَرِّكُهَا ) menjadi syadz (menyelisihi riwayat-riwayat yang lain yang lebih kuat) dan riwayat yang syadz adalah lemah.

4-     Mungkin tambahan (يُحَرِّكُهَا) yang di bawa oleh zaed bin qudamah adalah untuk menjelaskan akan isyarat.

5-     Tidak diketahui kaifiyyah (cara menggerakan) menunjukkan lemahnya pendapat menggerak-gerakkan jari.

bagaimana riwayat “menggerakan jarinya” itu  bisa diterima!!,  sedangkan kaifiyah (cara) menggerakannya saja tidak diketahui, apakah kekanan atau kanan dan  kiri , atau ke atas dan bawah atau kebawah saja atau berputar –putar dengan putaran kecil atau putaran yang besar dsb.

6-     Jika seandainya riwayat “menggerakan jarinya” itu  dianggap sebagai ziyadatutsiqoot (tambahan lafadz bagi perawi yang lebih tsiqat) maka ketahuli bahawa ziyadatutsiqat tidaklah layak untuk riwayat yang syadz seperti ini. seandainya layak, maka tidak akan ada namanya riwayat syadz, karena semua riwayat yang syadz bisa menjadi “Ziyadatutsiqoot”.

7-    ada suatu riwayat, meskipun lemah akan tetapi bisa menjadi penguat bagi hadits-hadits diatas, yang menunjukan tidak disyariatkannya menggerek-gerakkan jari telunjuk. yaitu hadits dari Abdullah bin zubair bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan telunjuknya ketika berdoa dan tidak menggerakkannya.”(HR.Sunan Abu Daud 3/173 dan sunan AnNasaai 5/28)

8-     Madzhab (ahmad , abu hanifah dan assyafi’i) memandang maksud Menggerakan adalah isyarat sedangkan madzhab maliki berpendapat menggerakan adalah menggerak- gerakkannya.

9-     Lafadz (يُحَرِّكُهَا )”menggerakkan” bisa mengandung arti sekali atau berkali-kali. Jika seandainya lafadz (يُحَرِّكُهَا )”menggerakkan” menunjukan makna taksir (banyak/kali-kali) atau makna “menggerak-gerakkan” maka adakah lafadz lain yang biasa digunakan orang arab untuk menunjukan menggerakan untuk sekali gerak??? Niscaya tidak akan didapati kamus kecuali hanya lafadz((يُحَرِّكُ )”menggerakkan”  ) “Tahrik” yang bisa menunjukkan sekali atau berkali-kali

10- Berkata albaihaqi

فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِالْتَحْرِيكِ الإِشَارَةَ بِهَا لاَ تَكْرِيرَ تَحْرِيكِهَا ، فَيَكُونُ مُوَافِقًا لِرِوَايَةِ ابْنِ الزُّبَيْرِ.

“kemungkinan maksud dari menggerakan adalah isyarat dengannya (telunjuk) yang tidak diulang-ulang gerakannya, sehingga sesuai dengan riwayat ibnu zubair.”(sunan kubra 2/132)

والله أعلم