Bolehkah bertasbih dengan menggunakan jari-jemari tangan kiri?

Hadits tentang bertasbih dengan tangan adalah apa yang diriwayatkan oleh AtTirmidzi, abu Daud, AnNasaai, Baihaqi dan lainya Dari Abdullah bin Amr bin Ash rhadiallahu ‘anhu beliau berkata:

 lafadz dalam riwayat riwayat dari abu daud :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ بِيَمِينِهِ;

aku melihat rasulullah Shallallahu ‘alaaihi wa sallam bertasbih dengan jalinan (jarinya), berkata ibnu qudamah :dengan tangan kanannya

Lafadz dari atTirmidzi :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ بِيَدِهِ

aku melihat rasulullah Shallallahu ‘alaaihi wa sallam bertasbih dengan jalinan (jarinya) dengan tangannya.”

 

lafadz dalam riwayat dari anNasaaai, hakim dan Tabraani

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ

aku melihat rasulullah Shallallahu ‘alaaihi wa sallam bertasbih dengan jalinan (jarinya).

lafadz dalam riwayat albaihaqi

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ بِيَمِينِهِ.

aku melihat rasulullah Shallallahu ‘alaaihi wa sallam bertasbih dengan jalinan (jarinya dengan tangan kanannya.

Lafadz “dengan tangan kanannya” adalah satu-satunya tambahan yang datang dari; “Muhammad bin qudamah”.

Maka ketahuilah bahwa ada hadits lain dari Abdullah bin amr bin ash, bahwasannya rasulullah saw bersabda :

خَلَّتَانِ لَا يُحْصِيهِمَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Kemudian beliau (Abdullah bin amr ) berkata : “aku melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpulkan tangannya.”dalam lafadz lain. “dia bertasbih dengan jalinan (jarinya) (hadits ini diriwayatkan AnNasaai, Ahmad, atTirmidzi).

Hadits ini  dari segi sanad adalah ahad.

Abdullah meriwayatkannya sendirian dari rasulullah saw, dan Abdullah atau Saaib bin zaid meriwayatkan sendirian dari Abdullah bin ash,  dan Atho bin Saaib meriwayatkannya sendirian dari bapaknya Ssaaib, dan dari Atho barulah masyhur hadits tersebut, meriwayatkan darinya(Atho bin saaib) sekelompok orang, diantaranya adalah :Syu’bah, sufyan atTsauri, hamad bin zaid, abu khotsimah, zuhair bin harab, isma’il bin ;aliyah dan al’amasy.

mereka adalah orang-orang yang berilmu dan tsiqqoh(terpercaya) dan kuat dalam periwayatannya, dan tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan : “dengan tangan kanannya”.

Lafadz ini didapatkan dari syekh/ gurunya abu daud (Muhammad bin qudamah) dari jalur ‘Aatsam bin ali dari Al’amasy .

Tambahan Muhammad bin qudamah ini menyelisihi rekan-rekannya yang juga mengambil riwayat dari ‘Aatsam yang mereka meriwayatkannya dari lafadz jama’ah yaitu dengan tanpa adanya tambahan lafadz “dengan tangan kanannya.”

Adapan yang mengambil riwayat ini dari atsam bin ‘ali adalah :

  1. Anaknya sendiri, yaitu ‘Ali bin ‘Atsam, dan ia adalah imam yang tsiqqoh.

riwayatnya dengan lafadz “رأَيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح “ (dikeluarkan oleh AlHakim di”Mustadrak:1/547)

  1. Muhammad bin ‘abdul ‘alaa asshan’aani, dia adalah perawi yang tsiqoh.
  2. Husen bin Muhammad adziraa’ albishri. Perwai yang jujur.

Keduanya meriwayatkan dengan lafadz :

رأَيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح

Hadits dikeluarkan oleh nasaai didalam sunannya: 3/79.

Sedangkan pada jalur Muhammad bin ‘abdul ‘alaa asshan’aani yang dikeluarkan oleh atTirmidzi, dengan lafadz :رأَيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح بيده

  1. Abu al’asy’ats ahmad bin almuqdam al’ajali albishri, perawi yang shudhuq. Dan lafadznya adalah :

رأَيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح

Dikeluarkan oleh alBaghowi dalam syarhusSunnah:5/47. dan dikeluarkan oleh ibnu hibban dengan lafadz :

رأَيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح بيده

sebagaimana yang terdapat dalam “Mawaariduzhomaan. Hal :580.

  1. ‘Ubaidillah bin maisarah albishri. Dengan lafadz :

رأَيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح. – قال ابن قدامة: بيمينه

Dikeluarkan oleh abu daaud didalam sunannya:2/81.

  1. Muhammad bin Qhudamah. Dengan lafadz :

رأَيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح بيمينه

Hadits ini dikeluarkan oleh baihaqi dalam sunsni lkubro : 2/187.

Mereka semuanya adalah murid-murid ‘aatsam dan satu diantara mereka yang  paling khusus, yaitu anaknya ‘aali bin ‘atsaam. Seorang imam hadits yang tsiqoh.

Semuanya meriwayatkan dengan lafadz “يعقد التسبيح “ saja, pada riwayat muhammad bin abul ‘ala dan Ahmad bin muqhoddam, ada tambahan “يعقد التسبيح بيده “dia bertasbih dengan tangan kanannya.

Dan lafadz (بيده ) “dengan tangannya” tidak bertentangan dengan riwayat yang lainnya (يعقد ) “menghitung dengan jari”, dikarenakan menghitung dengan jari tidak mungkin dilakukan kecuali dengan tangan.

Akan tetapi guru abu dawud, yaitu Muhammad bin Qudamah bin qudamah menyendiri dari perawi-pwerawi lainnya dengan lafadz “dengan tangan kanannya “, karena padanya tidak ada penguat dan menyelisihi perawi-perawi yang mengambil dari ‘aatsam dari al’aamasy, juga menyelisiahi semua perawi yang mengambil dari al’aamasy, hal ini termaksud penyelisihan tsiqoh terhadap yang lebih tsiqoh darinya, dan padahal didalam rekan-rekannya yang mengambil dari ‘aatsam, terdapat perawi yang lebih khusus, yaitu ‘Ali bin ‘atsam (anaknya ‘atsam) dan juga ‘ubaidillah bin Maisarah seorang perawi yang sangat tsiqoh sekali.

Dan penyelisihan lafadz ini(dengan tangan kanannya) bukanlah Muncul dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan pula dari kalangan sahabat Radhiallah ‘anhum, akan tetapi muncul dari perbedaan perawi didalam  dan kekuatan hafalan mereka, sedangkan lafadz (بيمينه) dengan tangan kanannya, hanya muncul dari Muhammad bin Qudamah, gurunya Abu Dawuud.

Berkata Ibnu Ja’far Ibnu Jarir atThobari,

والحفاظ الثقات إِذا تتابعوا على نقل شيء بصفة فخالفهم واحد منفرد ليس له حفظهم؛ كانت الجماعة الأَثبات أَحق بصحة ما نقلوا من الفرد الذي ليس له حفظهم

“jikalah perawi-perawi tsiqqoh, jika secara berurutan telah menukil suatu riwayat dengan suatu sifat, maka menyelisihinya seorang perawi dengan riwayat yang tidak terdapat pada hafalan perawi-perawi yang lain. Maka kelompok perawi-perawi yang telah tetap(ketsiqohannya) lebih berhak untuk dibenarkan penukilan mereka dari riwayat seseorang yang tidak terdapat didalam hafalan mereka.(Tafsir AtThobari.9/566)

Dan yang semakna dengan ishthilah diatas juga terdapat dalam beberapa kitab, yaitu : (Annukat/Ibu Hajar : 2/691) dan (Shiyaanatul Muslim/ Ibnu Sholaah : 139-154).

Dan yang menguatkan akan syadznya matan ini adalah sebagai berikut :

1-      bahwasannya Abu dawud ketika meriwayatkan hadits ini, mengisyaratkan akan sendirinya Muhammad bin Qudamah dengan tambahan itu, seperti inilah lafadznya dari Abu Dawuud. :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ بِيَمِينِهِ;

aku melihat rasulullah Shallallahu ‘alaaihi wa sallam bertasbih dengan jalinan (jarinya),

berkata ibnu qudamah :dengan tangan kanannya.

2-      Dan setelah aku teliti dan mencari-cari, tidak ada ulama yang meharuskankan dengan peraktek makna hadits ini(bertasbih dengan tangan kanan) kecuali perkataan Ibnu alJazri didalam kitab “Syarah Ibnu ‘alan Liladzkar:1/251), dia berkata : “Berkata Ahli ilmi : seyogyannya meghitung bilangan tashbih dengan tangan kanan.”.

Dan aku tidak melihat perkataan ini secara terperinci. Dan barang sipa yang memiliki kelebihan dari pada ilmu meka hendaknya dia memberikan penjelasan atasnya, dikarenakan berhujjah adalah sunnah.

3-      Dan lafadz (  اليد) lijins, untuk menjelaskan jenis. Yang dimaksud adalah (اليدان) dua tangan, sebagaimana terdapat didalam lafadz-lafadz perawi-perawi dalam hadits meletakan (  اليد) tangan diatas dada ketika berdiri shalat.

4-      Nabi Saw memerintahkan kepada para wanita, didalam hadits Yasirah Radhiyyallahu ‘anha,

قال لنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عليكن بالتسبيح والتهليل والتقديس, واعقدن بالأَنامل فإِنهن مسؤولات مستنطقات

“Nabi Saw berdabda kepada kami, hendaknya kalian bertasbih, bertahlil dan bertaqdis dan hitunglah dengan unjung jari-jari, maka sesungguhnya ujung jari-jari itu akan ditanya dan berbicara (pada hari kiamat).(HR.Ahmad:14/221, Abu Dawuud:1487, atTirmidzi : 3653, alHakim :2007)

Sebagaimana ujung ujung jari adalah yang diterdapat padanya kuku adalah umum untuk seluruh jari kedua tangan.

5-      Praktek penerapan Nash (dalil) dalam bentuk umumnya, sebagaimana telah praktekan oleh kaum muslimin, yang terdapat dalam kaidah syar’I dalam menggunakan dua tangan didalam ibadah, seperti didalam shalat, ketika mengangkat kedua tangan ketika takbir, meletakan kedua tangan diatas dada/ dibawa puser, ketika bersandar pada dengkul ketika rukuk, ketila sujud, mengangkat tangan ketika doa, memukul kedua tangan dan meniup ketika tayammum dsb.

Zikir adalah doa, dan sunnah berdoa adalah dengan kedua tangan bersama-sama, sebagaimana menganngkatnya dan meletakannya diatas dada.

Adapun isyarat kehajar aswad dan beristi’lam dengan tangan kanan saja, karena hal itu merupakan bentuk salam, dan salam menggunakan tangan kanan.

6-      AlBaghdaadi menyebutkan didalam  kitab “Khizaanatil aadaab”,

أَنه لما شرفت اليمين بالتيامن, شُرِّفَت الشمال معها بعقد التسبيح. وليس عقد التسبيح بهما بأَبلغ من قراءة القرآن والنفث فيهما ثم مسح البدن.

 bahwasannya ketika tangan kanan dimuliakan karena (segala kebaikan) dimulai dari sebelah kanan, maka dimuliakan pula tangan kiri dengan tangan kanan dengan bertasbih dengan hitungan jari, dan tidak lah bertasbih dengan hitungan jari dengan kedua tangan lrbih mulia dari membacakan alqur’an dan meniupkannya kepada kedua tangan kemudian membasuh badan.

Kesimpulan :

1-      bertasbih dengan tangan (اليد ) dan makna (اليد) adalah untuk menerangkan jenis, yaitu mencangkup dua tangan dan menghitung tasbih dengan jari-jari keduanya.

2-      Dan lafad (بيمينه) adala syadz (penyimpangan/ menyelisihi riwayat-riwayat yang lain) yang tidak bisa diterima, dan ini adalah termaksud dari macam-macam hadits dhoif, maka tidak boleh diamalkan.

3-      Sebagaimana diriwayat kan Imam Muslim dari Jabir bin ‘abdillah bahwasannya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung dengan jari-jari kedua tangannya.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّهْرَ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ ثُمَّ طَبَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيْهِ ثَلَاثًا مَرَّتَيْنِ بِأَصَابِعِ يَدَيْهِ كُلِّهَا وَالثَّالِثَةَ بِتِسْعٍ مِنْهَا

Berkata nabi Saw :” sesungguhnya satu bulan bisa dengan 29 hari kemudian beliau memperaktekan dua kali dengan semua jari-jari kedua tangannya , dan yang ketiga(terakhir) dengan 9 jari dari (kedua tangan)nya.(HR. Muslim:1815)

4- Sunnah bertasbih dengan jari-jemari,bukan dengan alat tasbih.

Jakarta 10-jan-2013, diterjemahkan secara ringkas dan makna dari kitab “laa jadiida fi ahkaamissholat, karangan Syekh bakr bin Abu zaid.